1. Berawal dari pendanaan yang mandek
Dua tahun lalu, Canonical, perusahaan di balik Ubuntu sudah mengumumkan rencana untuk menghadirkan Ubuntu for Phones dengan nama Ubuntu Edge. Proses crowdfunding pun dilakukan melalui Indiegogo pada Agustus 2013 dengan target mendapat USD 32 juta (Rp 400 miliar) dalam 30 hari.
Namun proses pendanaan tersebut akhirnya berhenti di USD 12,8 juta (Rp 162,6 miliar). Setelahnya, bisa dibilang Ubuntu Phone tidak mengalami perkembangan apapun. Hampir dua tahun setelah itu, Canonical memutuskan untuk menjalin kerjasama dengan dua vendor smartphone, BQ dan Meizu, untuk kembali mengembangkan Ubuntu Phone.
2. Dari premium, kini membidik pasar mid-end
Saat melakukan crowdfunding, Ubuntu Edge dirancang untuk menjadi smartphone premium. Perangkat ini dibekali dengan RAM 4 GB, penyimpanan internal 128 GB, dan layar Sapphire Glass 4,5 inci dengan resolusi 1280x720p. Saat itu, Ubuntu Edge dibanderol seharga USD 695 (Rp 8,9 juta) untuk bersaing dengan Apple iPhone 5 dan Samsung Galaxy S4.
Kini, sejumlah spesifikasi tersebut dipangkas untuk memberikan harga yang lebih terjangkau bagi konsumen. Ubuntu Phone versi baru mempunyai layar berukuran 4,5 inci dengan resolusi 540x960p, prosesor 1,3 GHz quad-core MediaTek Cortex A7, RAM 1 GB, kapasitas penyimpanan 8 GB (dengan slot Micro SD), dan kamera belakang 8 MP serta 5 MP untuk kamera depan.
Dibanderol dengan harga USD 195 (Rp 2,5 juta), Ubuntu Phone akan bersaing dengan sejumlah smartphone Android seperti Asus Zenfone 5, Lenovo P780, dan tentunya Android One yang dijual di kisaran harga Rp 1 juta.
3. Bukan murni produk baru
Bila Anda berharap akan mendapat produk yang benar-benar baru setelah penundaan rilis Ubuntu Phone, Anda mungkin akan kecewa. Pasalnya, harapan Anda tersebut belum terjadi untuk saat ini. Ubuntu phone yang baru saja dilempar ke pasaran secara terbatas beberapa hari lalu adalah BQ Aquaris E4.5 yang dibekali sistem operasi Ubuntu. Bila melihat kondisi seperti ini, satu-satunya yang bisa diandalkan Ubuntu Phone adalah sistem operasinya sendiri.
4. Akankah menggilas Android?
Saat ini, bisa dibilang sistem operasi yang paling marak beredar di pasaran untuk pasar mainstream adalah Android. Lalu apakah kemunculan Ubuntu Phone dengan sistem operasi yang berbeda akan menggeser Android? Jawabannya bisa dibilang belum. Terlebih bila handset yang digunakan masih menggunakan smartphone Android dengan OS yang berbeda. Pun dengan banderol harganya yang tidak bisa dibilang murah, Ubuntu Phone berpotensi hanya akan dibeli mereka yang benar-benar menyukai Linux.
5. Kemungkinan ketersediaan di Indonesia
Saat ini BQ baru menjual Ubuntu Phone melalui penjualan online terbatas untuk pasar Eropa saja. Namun tidak tertutup kemungkinan bila nantinya Ubuntu Phone akan dijual di pasar global. Terlebih dengan adanya kerjasama Canonical dan Meizu yang notabene merupakan perusahaan China, celah Ubuntu Phone tersedia di pasar Indonesia masih terbuka.
Terlepas dari apa yang sejauh ini ditawarkan BQ dengan Ubuntu Phone pertamanya, Mimin sendiri cukup penasaran untuk menjajal sistem operasi alternatif ini setelah empat tahun memakai ponsel Android. Bagaimana dengan Anda?
ConversionConversion EmoticonEmoticon